
Peserta dan narasumber terlibat dalam diskusi interaktif membahas peluang green jobs di era transisi energi pada kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus di STFT Jakarta, Rabu (8 April 2026).
Jakarta, 8 April 2026—Di tengah meningkatnya keresahan generasi muda terhadap ketidakpastian masa depan kerja, peluang baru justru terbuka melalui transisi energi menuju ekonomi hijau. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus bertajuk “Green Jobs di Era Transisi Energi: Peluang Orang Muda Berkarier di Masa Depan” yang diselenggarakan di Aula Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Unit Kegiatan Mahasiswa Gerakan Mahasiswa Bela Lingkungan (UKM GEMBEL) STFT Jakarta, Koaksi Indonesia, dan GreenFaith Indonesia untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peluang kerja ramah lingkungan sekaligus mendorong peran aktif orang muda dalam transisi energi berkeadilan.
Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menegaskan bahwa green jobs hadir sebagai respons atas krisis lingkungan global yang kian mendesak. “Bumi kita tidak baik-baik saja, sementara aktivitas ekonomi sangat bergantung pada lingkungan. Green jobs menjadi upaya untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan keadilan sosial,” ujarnya.

Narasumber menyampaikan gagasan inspiratif tentang peluang green jobs di era transisi energi dalam diskusi di STFT Jakarta, Rabu (8 April 2026).
Dalam konteks kebijakan, perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ayiful Ramadhan Asit, ST., ME, Plt. Kepala Bidang Energi Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mendukung pengembangan green jobs.
Melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2025, Jakarta menargetkan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan hingga tahun 2050, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). “Target ini membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus, mulai dari operator hingga tenaga teknis untuk mendukung operasional energi bersih,” jelasnya.
Pemerintah juga menyediakan berbagai program pelatihan, termasuk di sektor kendaraan listrik dan kolaborasi dengan industri, guna memastikan kesiapan tenaga kerja dalam mengisi peluang tersebut.
Dari sisi industri, Business Development Liberty Society, Cristine Florensia, menekankan pentingnya keterampilan adaptif dan kreatif bagi generasi muda. Menurutnya, ada tiga kemampuan kunci yang perlu dimiliki, yakni mindset ekonomi sirkular, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan komunikasi yang mampu menyampaikan isu keberlanjutan secara menarik.
Dia mencontohkan berbagai inovasi produk ramah lingkungan, mulai dari tas berbahan botol plastik daur ulang hingga produk berbasis limbah seperti ampas kopi. “Kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah menjadi kunci—kampus mencetak talenta, industri menciptakan permintaan, dan pemerintah mendukung melalui regulasi dan insentif,” jelasnya.
Sementara itu, perspektif akademik dan spiritual disampaikan oleh Pdt. Dr. Meilanny Risamasu, M.Th., dosen ekoteologi STFT Jakarta. Dia menekankan bahwa kesiapan memasuki green jobs harus diawali dari pembentukan kesadaran dan kebiasaan hidup ramah lingkungan.
“Green jobs tidak bisa dilepaskan dari green habit. Kesadaran itu tidak hanya lahir dari pengetahuan, tetapi dari praktik keseharian,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa STFT Jakarta mengembangkan pendekatan Green Campus Blue Seminary dengan mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum. “Kita hanya punya satu planet, tidak ada cadangan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki perspektif kritis ketika terjun ke masyarakat.”
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STFT Jakarta, Pdt. Rahel Sermon Harapani Daulay, Ph.D., menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari penghayatan iman.
“Ini adalah cara kita menghidupi iman di tengah dunia. Kami berharap mahasiswa dapat meningkatkan wawasannya dan terdorong untuk mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan.”
Peserta menyampaikan pertanyaan kritis seputar peluang karier ramah lingkungan dalam sesi tanya jawab di STFT Jakarta, Rabu (8 April 2026).
Dalam diskusi tersebut, Manajer Riset & Pengelolaan Pengetahuan Koaksi Indonesia, Ridwan Arif, menyoroti urgensi transisi energi tidak bisa dilepaskan dari target global untuk menahan kenaikan suhu bumi. Ridwan menekankan bahwa transisi menuju energi terbarukan tidak hanya penting untuk menekan emisi, tetapi juga membuka peluang kerja yang signifikan. Peluang green jobs terbuka luas, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang teknis.
“Teman-teman yang memiliki peran di masyarakat perlu memiliki cara berpikir tentang bagaimana melestarikan lingkungan. Selain keterampilan yang dimiliki, mereka juga punya posisi strategis di tengah masyarakat. Dalam banyak konteks, masyarakat masih sangat percaya pada tokoh seperti pendeta atau pemimpin komunitas. Ketika gerakan lingkungan datang dari mereka, biasanya akan lebih mudah diterima dan dijalankan,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa peran tersebut menjadi penting dalam menjembatani pemahaman masyarakat terhadap isu lingkungan. “Karena itu, meskipun tidak memiliki latar belakang teknis, teman-teman tetap bisa berkontribusi dalam green jobs. Peran ini tidak hanya soal aspek teknis, tetapi juga bagaimana menyebarkan kesadaran dan mendorong perubahan di masyarakat luas.”
Syahrul Ramadan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran dan aksi lingkungan di masyarakat. Menurutnya, agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menanamkan tanggung jawab moral untuk menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan.
“Di Indonesia, tokoh agama masih menjadi rujukan utama masyarakat. Karena itu, penting bagi pemuka agama untuk menyuarakan isu lingkungan,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa calon pemuka agama perlu membekali diri dengan pemahaman lingkungan agar mampu menggerakkan praktik keberlanjutan di masyarakat sekaligus menjadikan pendekatan ekologi sebagai ruang kolaborasi lintas iman.

Syahrul Ramadan menyampaikan peran penting nilai-nilai keagamaan dalam mendorong aksi lingkungan pada kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus di STFT Jakarta, Rabu (8 April 2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Ruang Aksi Goes to Campus yang telah dilaksanakan di sejumlah kampus dan akan terus diperluas untuk menjangkau lebih banyak orang muda di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui forum ini, generasi muda diharapkan tidak hanya memahami peluang green jobs, tetapi juga memiliki keterampilan, kesadaran, serta perspektif kritis untuk berkontribusi dalam mewujudkan transisi energi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.






